Senin, 24 Juni 2013
asslamualaikum wr wb,,,
Di era globalisasi ni banyak orang-orang yang belum mengetahui untuk apa ,kenapa dan apa tujuan dari asuhan keperwatan baik itu dari sisi perawat itu sendiri maupun dari sisi pasien/klien, membuat kedua belah pihak bingung , nah oleh sebab itu untuk megupas hal tersebut saya mau bagi-bagi file asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan imun & hematologi langung aja download aja di link bwah ni ya hehe,,
1.Askep Hepatitis
https://www.box.com/s/o3lydidjtrloopcl0hnh
Di era globalisasi ni banyak orang-orang yang belum mengetahui untuk apa ,kenapa dan apa tujuan dari asuhan keperwatan baik itu dari sisi perawat itu sendiri maupun dari sisi pasien/klien, membuat kedua belah pihak bingung , nah oleh sebab itu untuk megupas hal tersebut saya mau bagi-bagi file asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan imun & hematologi langung aja download aja di link bwah ni ya hehe,,
1.Askep Hepatitis
https://www.box.com/s/o3lydidjtrloopcl0hnh
1.Pengertian
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat
disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta
bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999).
Hepatitis virus
merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia
serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001)
Hepatitis B
adalah infeksi pada hati yang berpotensi menyebabkan kematian yang disebabkan
oleh virus hepatitis B. Hepatitis B merupakan masalah kesehatan global utama
dan merupakan jenis yang paling serius dari semua jenis Hepatitis. Penyakit ini
dapat menyebabkan penyakit hati kronis dan bisa menyebabkan penderitanya
beresiko tinggi mengalami kematian akibat komplikasi lebih lanjut menjadi
sirosis hati dan kanker hati. (WHO, 2008)
(WHO, 2008) HBV adalah suatu virus DNA untai ganda
yang disebut partikel Dane. Virus ini memiliki beberapa antigen inti dan
antigen permukaan yang telah diketahui secara rinci dan dapat diidentifikasi
dari sampel darah hasil pemeriksaan lab. HBV memiliki masa tunas yang lama,
antara 1-7 bulan dengan awitan rata-rata 1-2 bulan. (Elizabeth J. Corwin, 2009:
667)
Hepatitis
merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh virus disertai dengan nekrosis
dan inflamasi pada sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan klinis,
biokomia serta seluler yang khas. Hepatitis B merupakan peradangan pada sel-sel
hati yang disebabkan oleh HBV (Hepatitis B Virus) dan ditularkan melalui kontak
darah maupun cairan tubuh. (Brunner & Suddarth, 2002: 1169)
Hepatitis B
merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, bersifat akut, terutama
ditularkan secara parenteral tetapi bisa juga secara oral, melalui hubungan
seksual antara penderita dan orang lain, dan dari ibu ke bayi. (Dorland, 1998:
502)
2 . ETIOLOGI
Hepatitis disebabkan oleh infeksi dari HBV
(Hepatitis B Virus). Beberapa faktor predisposisi terjadinya penularan
Hepatitis B adalah:
1. Kontak dengan
darah, sekresi dan tinja dari manusia yang terkontaminasi.
2. Kontak
melalui hubungan intim seksual.
3. Penularan
perinatal (Lippincott William & Wilkins, 2008: 261)
Cara umum
penularan Hepatitis B di negara berkembang adalah:
1. Perinatal
(dari ibu ke bayi saat kelahiran).
2. Infeksi awal
pada masa kanak-kanak (infeksi subklinis melalui kontak interpersonal
dengan kelompok
yang terinfeksi).
3. Penggunaan
jarum suntik sembarangan.
4. Transfusi
darah.
5. Hubungan
seksual.
6. Berbagi
siakat gigi atau pisau cukur
7. Penatauan
tubuh atau penindikan bagian tubuh yang jarumnya sudah tidak steril
8. Proses klinik
gigi yang gegabah dan menggunakan alat-alat tidak steril
9. Donor darah
instan untuk emergency, atau penyimpanan donor darah tanpa di periksa terlebih
dahulu oleh laoratorium
10. Tranfusi
cairan tubuh dan organ tubuh yang ceroboh tidak mengikuti prosedur medis yang
benar
( Prof. Heath
Kelly & Dr. Noel Bennett, 2009: 125)
3. MANISFESTASI KLINIS
Gejala Hepatitis
B mirip gejala flu. Kadang-kadang sangat ringan bahkan tida terobati. Gejala
utama dari Hepatitis B adalah sebagai berikut:
1. Urtikaria
atau artralgia sebelum terjadinya tanda sakit kuning menunjukkan infeksi HBV
menimbulkan gejala sama sekali. Hanya sedikit orang yang terinfeksi menunjukkan
semua gejala. Karena alasan ini banyak kasus Hepatitis B yang tidak
terdiagnosis dan (Lippincott William & Wilkins, 2008: 260)
2. Mudah lelah
3. Demam ringan
4. Nyeri otot
dan persendian
5. Mual dan
muntah
6. Sakit kepala
7. Kehilangan
nafsu makan
8. Nyeri perut
kanan atas
9. Diare
10. Warna tinja
seperti dempul (keabu-abuan)
11. Warna urine
seperti the
12. Warna kulit
dan sklera mata kuning (jaundice), sering disebut penyakit kuning.
13. Penurunan
berat badan 2.5 - 5 kg (sumber: Unit Transfusi Darah PMI Cabang Kota
Yogyakarta)
4.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis
infeksi hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda
virologi, biokimiawi dan histologi.
1. Pemeriksaan serologi
a.Adanya HBsAg
dalam serum merupakan pertanda serologis infeksi hepatitis B. Titer HBsAg yang
masih positif lebih dari 6 bulan menunjukkan infeksi hepatitis kronis.
Munculnya antibodi terhadap HBsAg (anti HBs) menunjukkan imunitas dan atau
penyembuhan proses infeksi.
b Adanya HBeAg
dalam serum mengindikasikan adanya replikasi aktif virus di dalam hepatosit.
Titer HBeAg berkorelasi dengan kadar HBV DNA. Namun tidak adanya HBeAg
(negatif) bukan berarti tidak adanya replikasi virus, keadaan ini dapat
dijumpai pada penderita terinfeksi HBV yang mengalami mutasi (precore atau core
mutant)
2.
Pemeriksaan virologi
Pemeriksaan
virologi untuk mengukur jumlah HBV DNA serum sangat penting karena dapat
menggambarkan tingkat replikasi virus.
3. Pemeriksaan
biokimiawiSalah satu pemeriksaan biokimiawi yang penting untuk menentukan
keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan adanya
aktifitas nekroinflamasi. Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan
sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar ALT yang meningkat
menunjukkan proses nekroinflamasi lebih berat dibandingkan pada ALT yang
normal. Menurut Price dan Wilson (1995) bahwa kadar normal AST adalah 5-40
unit/ml, sedangkan kadar normal ALT adalah 5-35 unit/ml.
4. Pemeriksaan histologi (biopsi)
Tujuan
pemeriksaan histologi adalah untuk menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan
diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti viral.
Ukuran spesimen biopsi yang representatif adalah 1-3 cm (ukuran panjang) dan
1,2-2 mm (ukuran diameter) baik menggunakan jarum Menghini atau Tru-cut. Salah
satu metode penilaian biopsi yang sering digunakan adalah dengan Histologic
Activity Index score. (JB Suharjo, B Cahyono, 2006)
Rabu, 13 Maret 2013
Buat teman -teman yg ingin materi biostatistik terbaru langsung aja download di link bawah ni yaaa..
"selamat belajar "1.(STATISTIKA INFERENSIAL (Estimasi dan Hipotesis)-Pertemuan II )
https://www.box.com/s/18iqucj8x0d5ew2l6ovn
2. Full Biostatistik untuk UTS (ujian tengah smester )
https://www.box.com/s/4inng351xvve2fxrra9g
3.UAS biostatistik A71
https://www.box.com/s/4hkz19zhmajb1aser9r5
Kamis, 03 Mei 2012
ASUHAN
KEPERAWATAN ANAK DENGAN FISTULA
A.Defenisi
Fistula adalah suatu
ostium abnormal, berliku-liku antara dua organ berongga internal atau antara
organ internal dengan tubuh bagian luar.
B.Etiologi
Kebanyakan fistula
berawal dari kelenjar dalam di dinding anus atau rektum. Kadang-kadang fistula
merupakan akibat dari pengeluaran nanah pada abses anorektal. Tetapi lebih
sering, penyebabnya tidak dapat diketahui.
Fistula sering
ditemukan pada penderita:
- penyakit Crohn
- tuberkulosis
- divertikulitis
- kanker atau cedera anus maupun
rektum.
Fistula pada anak-anak
biasanya merupakan cacat bawaan, dimana fistula tertentu lebih sering ditemukan
pada anak laki-laki.
C.Manifestasi Klinik
Gejala tergantung pada
kekhususan defek. Pus atau feses dapat bocor secara konstan dari lubang
kutaneus. Gejala ini mungkin pasase flatus atau feses dari vagina atau kandung
kemih,tergantung pada saluran fistula. Fistula yang tidak teratasi dapat
menyebabkan infeksi sistemik disertai gejala yang berhubungan.
D.Diagnosis
Diagnosis ditegakkan
berdasarkan hasil pemeriksaan di daerah anus, dimana ditemukan satu atau lebih
pembukaan fistula atau teraba adanya fistula di bawah permukaan. Sebuah alat
penguji bisa dimasukan untuk menentukan kedalaman dan arahnya. Ujung dalamnya
bisa ditentukan lokasinya dengan melihat melalui anoskop yang dimasukkan ke
dalam rektum.
E.Penatalaksanaan
Pembedahan selalu
dianjurkan karena beberapa fistula sembuh secara spontan. Fistulektomi (eksisi
saluran fistula) adalah prosedur yang dianjurkan. Usus bawah dievakuasi secara
seksama dengan enema yang diprogramkan.
Selama pembedahan,
saluran sinus diidentifikasi dengan memasang alat ke dalamnya atau dengan
menginjeksi saluran dengan larutan biru metilen. Fistula didiseksi ke luar atau
dibiarkan terbuka, dan insisi lubang rektalnya mengarah keluar. Luka diberi
tampon dengan kasa.
F.Komplikasi
1.Infeksi
2.Gangguan fungsi
reproduksi
3.Gangguan dalam
berkemih
4.Gangguan dalam
defekasi
5.Ruptur/ perforasi
organ yang terkait
G.Konsep Keperawatan
1.Pengkajian
a.Sirkulasi
Tanda : Peningkatan TD (efek pembesaran ginjal)
b.Eliminasi
Gejala : Penurunan kekuatan /dorongan aliran urin,
tetesan
Tanda : Feses keluar melalui fistula
c.Makanan/cairan
Gejala : Anoreksia; mual dan muntah
Tanda : Penurunan Berat Badan
d.Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri suprapubik, daerah fistula dan nyeri
punggung bawah
e.Keamanan
Gejala : Demam
f.Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Rencana pembedahan
Rencana Pemulangan :
Memerlukan bantuan
dengan manajemen terapi
2.Diagnosa Keperawatan
a.Nyeri berhubungan
dengan iritasi mukosa, proses inflamasi
b.Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses pembedahan
c.Gangguan konsep diri
berhubungan dengan perubahan pola defekasi.
d.Kecemasan berhubungan
dengan perubahan status kesehatan.
e.Kurang pengetahuan
berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan interpretasi.
3.Rencana Asuhan
Keperawatan
a.Nyeri berhubungan
dengan iritasi mukosa, proses inflamasi
Tujuan : Nyeri
berkurang atau hilang
Intervensi Rasional
1.Dorong pasien untuk
melaporkan nyeri.
2.Kaji laporan kram
abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas.
3.Catat petunjuk
non-verbal, mis.gelisah, menolak untuk bergerak, berhati-hati dengan abdomen.
4.Kaji ulang
faktor-faktor yang meningkatkan/ menghilangkan nyeri
5.Bersihkan area rektal
dengan sabun ringan dan air/lap setelah defekasi dan berikan perawatan kulit.
6.Observasi/ catat
distensi abdomen, peningkatan suhu, penurunan TD 1. Mencoba untuk mentoleransi
nyeri tanpa analgesik.
2.Nyeri sebelum
defekasi sering terjadi pada KU dengan tiba-tiba, dimana dapat berat dan
terus-menerus.
3.Dapat digunakan pada
hubungan petunjuk verbal untuk mengidentifikasi luas/ beratnya masalah
4.Dapat menunjukkan
dengan tepat pencetus atau faktor pemberat
5.Melindungi kulit dari
asam usus, mencegah ekskoriasi.
6.Dapat menunjukkan
terjadinya obstruksi usus karena inflamasi, edema, dan jaringan parut.
b.Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses pembedahan
Tujuan : Klien bebas dari tanda-tanda infeksi
Intervensi Rasional
1.Pantau tanda-tanda
vital, perhatikan peningkatan suhu.
2.Obeservasi penyatuan
luka, adanya inflamasi
3.Pantau pernapasan,
bunyi napas. Pertahankan kepala tempat tidur tinggi 35-45 derajat, bantu pasien
untuk membalik, batuk, dan napas dalam.
4.Observasi terhadap
tanda/ gejala peritonitis, mis, demam, peningkatan nyeri, distensi abdomen.
5.Pertahankan perawatan
luka aspetik. Pertahankan balutan kering.
6.Berikan obat
antibiotik sesuai indikasi.
1.Suhu malam hari
memuncak yang kembali ke normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi.
2.Perkembangan infeksi
dapat memperlambat pemulihan.
3.Infeksi pulmonal
dapat terjadi karena depresi pernapasan, ketidakefektifan batuk, dan distensi
abdomen.
4.Meskipun persiapan
usus dilakukan sebelum pembedahan, peritonitis dapat terjadi bila usus
terganggu, mis, ruptur praoperasi, kebocoran anastomosis.
5.melindungi pasien
dari kontaminasi silang selama penggantian balutan. Balutan basah bertindak
sebagai retrograd, menyerap kontaminan eksternal.
6.Diberikan secara
profilaktik dan untuk mengatasi infeksi.
c.Gangguan konsep diri
berhubungan dengan perubahan pola defekasi.
Tujuan : Terjadi peningkatan rasa harga diri
Intervensi Rasional
1.Kaji respon dan
reaksi pasien dan keluarga terhadap penyakit dan penanganannya
2.Kaji hubungan antara
pasien dengan anggota keluarga
3.Kaji pola koping
pasien dan anggota keluarga
4.Ciptakan diskusi
terbuka tentang perubahan yang terjadi akibat penyakit dan penanganannya.
1.Menyediakan data
tentang masalah pada pasien dan keluarga dalam menghadapi perubahan dalam hidup
2.Mengindentifikasi
penguatan dan dukungan terhadap pasien.
3.Pola koping yang
efektif diasa lalu mungkin potensial destruktif ketika memandang pembatasan
yang ditetapkan.
4.Pasien dapat mengindentifikasi
masalah dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapinya.
d.Kecemasan berhubungan
dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan : Kecemasan berkurang atau teratasi
Intervensi Rasional
1.Catat petunjuk
perilaku mis, gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak mata, perilaku
menarik perhatian.
2.Dorong menyatakan
perasaan. Berikan umpan balik
3.Akui bahwa ansietas
dan masalah mirip yang diekspresikan orang lain. Tingkatkan perhatian mendengan
pasien.
4.Berikan informasi
yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan.
5.Berikan lingkungan
tenang dan istirahat.
6.Dorong pasien/orang
terdekat untuk menyatakan perhatian, perilaku perhatian.
7.Bantu pasien belajar
mekanisme koping baru, mis teknik mengatasi stres. 1. Stres dapat terjadi
sebagai akibat gejala fisik kondisi, juga reaksi lain.
2.membuka hubungan
terapeutik. Membantu dalam meng-indentifikasi masalah yang menyebabkan stres.
3.Validasi bahwa
perasaan normal dapat membantu menurunkan stres.
4.Keterlibatan pasien
dalam perencanaan perawatan memberikan rasa kontrol dan membantu menurunkan
ansietas.
5.meningkatkan
relaksasi, membantu menurunkan ansietas.
6.tindakan dukungan
dapat membantu pasien merasa stres berkurang.
7.meningkatkan kontrol
penyakit.
e.Kurang pengetahuan
berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan interpretasi.
Tujuan : Klien/
keluarga menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan.
Intervensi Rasional
1.Tentukan persepsi
pasien/ keluarga tentang proses penyakit.
2.Kaji ulang proses
penyakit, penyebab/ efek hubungan faktor yang menimbulkan faktor pendukung.
3.Kaji ulang obat,
tujuan, frekuensi, dosis, dan kemungkinan efek samping.
4.Tekankan pentingnya
perawatan kulit, mis, teknik cuci tangan dengan baik dan perawatan perineal
yang baik.
5.Penuhi kebutuhan
evaluasi jangka panjang dan evaluasi periodik.
1.Membuat pengetahuan
dasar dan memberikan kebutuhan belajar individu.
2.Pengetahuan dasar
yang akurat memberikan kesempatan pasien untuk membuat keputusan
informasi/pilihan tentang masa depan dan kontrol penyakit.
3.Meningkatkan
pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program.
4.menurunkan penyebaran
bakteri dan resiko iritasi kulit/kerusakan, infeksi.
5.Pasien dengan
inflamasi beresiko untuk kanker dan evaluasi diagnostik teratur dapat
diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes Marilynn E,
dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Ed.3. EGC. Jakarta.
Mansjoer Arief, dkk.
2001. Kapita Selekta Kedokteran. Ed 3. Penerbit Media Aesculapuis FKUI.
Jakarta.
Minggu, 29 April 2012
STRUMA
1. Defenisi
Kelainan glandula tyroid dapat berupa gangguan
fungsi seperti tiritosikosis atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya,
seperti penyakit tyroid noduler. Berdasarkan patologinya, pembesaran tyroid
umumnya disebut struma (De Jong & Syamsuhidayat, 1998).
2. Embriologi
Kelenjar tyroid berkembang dari endoderm pada garis
tengah usus depan (De Jong & Syamsuhidayat, 1998). Kelenjar tyroid mulai
terlihat terbentuk pada janin berukuran 3,4-4 cm, yaitu pada akhir bulan
pertama kehamilan. Kelenjar tyroid berasal dari lekukan faring antara branchial
pouch pertama dan kedua. Dari bagian tersebut timbul divertikulum, yang
kemudian membesar, tumbuh ke arah bawah mengalami desensus dan akhirnya
melepaskan diri dari faring. Sebelum lepas, berbentuk sebagai duktus
tyroglossus yang berawal dari foramen sekum di basis lidah.
Duktus ini akan menghilang setelah dewasa, tetapi
pada keadaan tertentu masih menetap. Dan akan ada kemungkinan terbentuk
kelenjar tyroid yang letaknya abnormal, seperti persisten duktud tyroglossus,
tyroid servikal, tyroid lingual, sedangkan desensus yang terlalu jauh akan
membentuk tyroid substernal. Branchial pouch keempat ikut membentuk kelenjar
tyroid, merupakan asal sel-sel parafolikular atau sel C, yang memproduksi kalsitonin.(IPD
I). Kelenjar tyroid janin secara fungsional mulai mandiri pada minggu ke-12
masa kehidupan intrauterin. (De Jong & Syamsuhidayat, 1998).
3. Anatomi
Kelenjar tyroid terletak dibagian bawah leher,
antara fascia koli media dan fascia prevertebralis. Didalamruang yang sama
terletak trakhea, esofagus, pembuluh darah besar, dan syaraf. Kelenjar tyroid
melekat pada trakhea sambil melingkarinya dua pertiga sampai tiga perempat
lingkaran. Keempat kelenjar paratyroid umumnya terletak pada permukaan belakang
kelenjar tyroid (De Jong & Syamsuhidayat, 1998).
Tyroid terdiri atas dua lobus, yang dihubungkan oleh
istmus dan menutup cincin trakhea 2 dan 3. Kapsul fibrosa menggantungkan
kelenjar ini pada fasia pretrakhea sehingga pada setiap gerakan menelan selalu
diikuti dengan terangkatnya kelenjar kearah kranial. Sifat ini digunakan dalam
klinik untuk menentukan apakah suatu bentukan di leher berhubungan dengan
kelenjar tyroid atau tidak (Djokomoeljanto, 2001).
Vaskularisasi kelenjar tyroid berasal dari Arteri
Tiroidea Superior (cabang dari Arteri Karotis Eksterna) dan a. Tyroidea
Inferior (cabang Arteri Subklavia). Setiap folikel lymfoid diselubungi oleh
jala-jala kapiler, dan jala-jala limfatik, sedangkan sistem venanya berasal
dari pleksus perifolikular (Djokomoeljanto, 2001).
Nodus Lymfatikus tyroid berhubungan secara bebas
dengan pleksus trakhealis yang kemudian ke arah nodus prelaring yang tepat di
atas istmus, dan ke nl. Pretrakhealis dan nl. Paratrakhealis, sebagian lagi
bermuara ke nl. Brakhiosefalika dan ada yang langsung ke duktus thoraksikus.
Hubungan ini penting untuk menduga penyebaran keganasan (Djokomoeljanto, 2001).
Pengaturan faal tiroid :
Ada 4 macam kontrol terhadap faal kelenjar tiroid :
(Djokomoeljanto, 2001)
TRH (Thyrotrophin releasing hormone)
Tripeptida yang disentesis oleh hpothalamus.
Merangsang hipofisis mensekresi TSH (thyroid stimulating hormone) yang
selanjutnya kelenjar tiroid teransang menjadi hiperplasi dan hiperfungsi
TSH (thyroid stimulating hormone)
Glikoprotein yang terbentuk oleh dua sub unit (alfa
dan beta). Dalam sirkulasi akan meningkatkan reseptor di permukaan sel tiroid
(TSH-reseptor-TSH-R) dan terjadi efek hormonal yaitu produksi hormon meningkat
Umpan Balik sekresi hormon (negative feedback).
Kedua hormon (T3 dan T4) ini menpunyai umpan balik
di tingkat hipofisis. Khususnya hormon bebas. T3 disamping berefek pada
hipofisis juga pada tingkat hipotalamus. Sedangkan T4 akan mengurangi kepekaan
hipifisis terhadap rangsangan TSH.
Pengaturan di tingkat kelenjar tiroid sendiri.
Produksi hormon juga diatur oleh kadar iodium intra
tiroid
Efek metabolisme Hormon Tyroid : (Djokomoeljanto,
2001)
Kalorigenik
Termoregulasi
Metabolisme protein. Dalam dosis fisiologis kerjanya
bersifat anabolik, tetapi dalam dosis besar bersifat katabolik
Metabolisme karbohidrat. Bersifat diabetogenik,
karena resorbsi intestinal meningkat, cadangan glikogen hati menipis, demikian
pula glikogen otot menipis pada dosis farmakologis tinggi dan degenarasi insulin
meningkat.
Metabolisme lipid. T4 mempercepat sintesis
kolesterol, tetapi proses degradasi kolesterol dan ekspresinya lewat empedu
ternyata jauh lebih cepat, sehingga pada hiperfungsi tiroid kadar kolesterol
rendah. Sebaliknya pada hipotiroidisme kolesterol total, kolesterol ester dan
fosfolipid meningkat.
Vitamin A. Konversi provitamin A menjadi vitamin A
di hati memerlukan hormon tiroid. Sehingga pada hipotiroidisme dapat dijumpai
karotenemia.
Lain-lain : gangguan metabolisme kreatin fosfat
menyebabkan miopati, tonus traktus gastrointestinal meninggi, hiperperistaltik
sehingga terjadi diare, gangguan faal hati, anemia defesiensi besi dan
hipotiroidisme.
7. Klasifikasi Struma
Pembesaran kelenjar tiroid (kecuali keganasan),
Menurut American society for Study of Goiter membagi :
Struma Non Toxic Diffusa
Struma Non Toxic Nodusa
Stuma Toxic Diffusa
Struma Toxic Nodusa
Istilah Toksik dan Non Toksik dipakai karena adanya
perubahan dari segi fungsi fisiologis kelenjar tiroid seperti hipertiroid dan
hipotyroid, sedangkan istilah nodusa dan diffusa lebih kepada perubahan bentuk
anatomi.
Struma non toxic nodusa
Adalah pembesaran dari kelenjar tiroid yang berbatas
jelas tanpa gejala-gejala hipertiroid.
Etiologi : Penyebab paling banyak dari struma non
toxic adalah kekurangan iodium. Akan tetapi pasien dengan pembentukan struma
yang sporadis, penyebabnya belum diketahui.Struma non toxic disebabkan oleh
beberapa hal, yaitu :
Kekurangan iodium: Pembentukan struma terjadi pada
difesiensi sedang yodium yang kurang dari 50 mcg/d. Sedangkan defisiensi berat
iodium adalah kurang dari 25 mcg/d dihubungkan dengan hypothyroidism dan
cretinism.
Kelebihan yodium: jarang dan pada umumnya terjadi
pada pre-existing penyakit tiroid autoimun
Goitrogen :
Obat : Propylthiouracil, litium, phenylbutazone,
aminoglutethimide, expectorants yang mengandung yodium
Agen lingkungan : Phenolic dan phthalate ester
derivative dan resorcinol berasal dari tambang batu dan batubara.
Makanan, Sayur-Mayur jenis Brassica ( misalnya,
kubis, lobak cina, brussels kecambah), padi-padian millet, singkong, dan
goitrin dalam rumput liar
Dishormonogenesis: Kerusakan dalam jalur
biosynthetic hormon kelejar tiroid
Riwayat radiasi kepala dan leher : Riwayat radiasi
selama masa kanak-kanak mengakibatkan nodul benigna dan maligna (Lee, 2004)
Struma Non Toxic Diffusa
Etiologi: (Mulinda, 2005)
Defisiensi Iodium
Autoimmun thyroiditis: Hashimoto oatau postpartum
thyroiditis
Kelebihan iodium (efek Wolff-Chaikoff) atau ingesti
lithium, dengan penurunan pelepasan hormon tiroid.
Stimulasi reseptor TSH oleh TSH dari tumor
hipofisis, resistensi hipofisis terhadap hormo tiroid, gonadotropin, dan/atau
tiroid-stimulating immunoglobulin
Inborn errors metabolisme yang menyebabkan kerusakan
dalam biosynthesis hormon tiroid.
Terpapar radiasi
Penyakit deposisi
Resistensi hormon tiroid
Tiroiditis Subakut (de Quervain thyroiditis)
Silent thyroiditis
Agen-agen infeksi
Suppuratif Akut : bacterial
Kronik: mycobacteria, fungal, dan penyakit
granulomatosa parasit
Keganasan Tiroid
Struma Toxic Nodusa
Etiologi : (Davis, 2005)
Defisiensi iodium yang mengakibatkan penurunan level
T4
Aktivasi reseptor TSH
Mutasi somatik reseptor TSH dan Protein G
Mediator-mediator pertumbuhan termasuk: Endothelin-1
(ET-1), insulin like growth factor-1, epidermal growth factor, dan fibroblast
growth factor.
Struma Toxic Diffusa
Yang termasuk dalam struma toxic difusa adalah grave
desease, yang merupakan penyakit autoimun yang masih belum diketahui penyebab
pastinya (Adediji,2004)
Patofisiologi :
Gangguan pada jalur TRH-TSH hormon tiroid ini
menyebabkan perubahan dalam struktur dan fungsi kelenjar tiroid gondok.
Rangsangan TSH reseptor tiroid oleh TSH, TSH-Resepor Antibodi atau TSH reseptor
agonis, seperti chorionic gonadotropin, akan menyebabkan struma diffusa. Jika suatu
kelompok kecil sel tiroid, sel inflamasi, atau sel maligna metastase ke
kelenjar tiroid, akan menyebabkan struma nodusa (Mulinda, 2005)
Defesiensi dalam sintesis atau uptake hormon tiroid
akan menyebabkan peningkatan produksi TSH. Peningkatan TSH menyebabkan
peningkatan jumlah dan hiperplasi sel kelenjar tyroid untuk menormalisir level
hormon tiroid. Jika proses ini terus menerus, akan terbentuk struma. Penyebab
defisiensi hormon tiroid termasuk inborn error sintesis hormon tiroid,
defisiensi iodida dan goitrogen (Mulinda, 2005)
Struma mungkin bisa diakibatkan oleh sejumlah
reseptor agonis TSH. Yang termasuk stimulator reseptor TSH adalah reseptor
antibodi TSH, kelenjar hipofise yang resisten terhadap hormon tiroid, adenoma
di hipotalamus atau di kelenjar hipofise, dan tumor yang memproduksi human
chorionic gonadotropin (Mulinda, 2005)
STRUMA NON TOKSIK
Struma non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid
pada pasien eutiroid, tidak berhubungan dengan neoplastik atau proses
inflamasi. Dapat difus dan simetri atau nodular.
Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba
suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodosa. Struma nodosa tanpa
disertai tanda-tanda hipertiroidisme disebut struma nodosa non-toksik. Struma
nodosa atau adenomatosa terutama ditemukan di daerah pegunungan karena
defisiensi iodium. Biasanya tiroid sudah mlai membesar pada usia muda dan
berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa.
Struma multinodosa terjadi pada wanita usia lanjut
dan perubahan yang terdapat pada kelenjar berupa hiperplasi sampai bentuk
involusi. Kebanyakan penderita struma nodosa tidak mengalami keluhan karena
tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme. Nodul mungkin tunggal tetapi
kebanyakan berkembang menjadi multinoduler yang tidak berfungsi.
Degenerasi jaringan menyebabkan kista atau adenoma.
Karena pertumbuhannya sering berangsur-angsur, struma dapat menjadi besar tanpa
gejala kecuali benjolan di leher. Walaupun sebagian struma nodosa tidak
mengganggu pernapasan karena menonjol ke depan, sebagian lain dapat menyebabkan
penyempitan trakea jika pembesarannya bilateral. Pendorongan bilateral demikian
dapat dicitrakan dengan foto Roentgen polos (trakea pedang). Penyempitan yang
berarti menyebabkan gangguan pernapasan sampai akhirnya terjadi dispnea dengan
stridor inspirator (Noer, 1996) .
Manifestasi klinis
Struma nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa
hal (Mansjoer, 2001) :
Berdasarkan jumlah nodul: bila jumlah nodul hanya
satu disebut struma nodosa soliter (uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut
multinodosa.
Berdasarkan kemampuan menangkap yodium radoiaktif :
nodul dingin, nodul hangat, dan nodul panas.
Berdasarkan konsistensinya : nodul lunak, kistik,
keras, atau sangat keras.
Pada umumnya pasien struma nodosa datang berobat
karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Sebagian kecil pasien,
khususnya yang dengan struma nodosa besar, mengeluh adanya gejala mekanis,
yaitu penekanan pada esophagus (disfagia) atau trakea (sesak napas) (Noer,
1996). Gejala penekanan ini data juga oleh tiroiditis kronis karena
konsistensinya yang keras (Tim penyusun, 1994). Biasanya tidak disertai rasa nyeri
kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul (Noer, 1996).
Keganasan tiroid yang infiltrasi nervus rekurens
menyebabkan terjadinya suara parau (Tim penyusun, 1994).
Kadang-kadang penderita datang dengan karena adanya
benjolan pada leher sebelah lateral atas yang ternyata adalah metastase
karsinoma tiroid pada kelenjar getah bening, sedangkan tumor primernya sendiri
ukurannya masih kecil. Atau penderita datang karena benjolan di kepala yang
ternyata suatu metastase karsinoma tiroid pada kranium (Tim penyusun, 1994).
Diagnosis
Anamnesa sangatlah pentinglah untuk mengetahui
patogenesis atau macam kelainan dari struma nodosa non toksika tersebut. Perlu
ditanyakan apakah penderita dari daerah endemis dan banyak tetangga yang sakit
seperti penderita (struma endemik). Apakah sebelumnya penderita pernah
mengalami sakit leher bagian depan bawah disertai peningkatan suhu tubuh
(tiroiditis kronis). Apakah ada yang meninggal akibat penyakit yang sama dengan
penderita (karsinoma tiroid tipe meduler) (Tim penyusun, 1994).
Pada status lokalis pemeriksaan fisik perlu dinilai
(Mansjoer, 2001) :
jumlah nodul
konsistensi
nyeri pada penekanan : ada atau tidak
pembesaran gelenjar getah bening
Inspeksi dari depan penderita, nampak suatu benjolan
pada leher bagian depan bawah yang bergerak ke atas pada waktu penderita
menelan ludah. Diperhatikan kulit di atasnya apakah hiperemi, seperti kulit
jeruk, ulserasi.
Palpasi dari belakang penderita dengan ibu jari
kedua tangan pada tengkuk penderita dan jari-jari lain meraba benjolan pada
leher penderita.
Pada palpasi harus diperhatikan :
lokalisasi benjolan terhadap trakea (mengenai lobus
kiri, kanan atau keduanya)
ukuran (diameter terbesar dari benjolan, nyatakan
dalam sentimeter)
konsistensi
mobilitas
infiltrat terhadap kulit/jaringan sekitar
apakah batas bawah benjolan dapat diraba (bila tak
teraba mungkin ada bagian yang masuk ke retrosternal)
Meskipun keganasan dapat saja terjadi pada nodul
yang multiple, namun pada umumnya pada keganasan nodulnya biasanya soliter dan konsistensinya
keras sampai sangat keras. Yang multiple biasanya tidak ganas kecuali bila
salah satu nodul tersebut lebih menonjol dan lebih keras dari pada yang
lainnya.
Harus juga diraba kemungkinan pembesaran kelenjar
getah bening leher, umumnya metastase karsinoma tiroid pada rantai juguler (Tim
penyusun, 1994).
Pemeriksaan penunjang meliputi (Mansjoer, 2001) :
Pemeriksaan sidik tiroid
Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan
ukuran, bentuk lokasi, dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Pada
pemeriksaan ini pasien diberi Nal peroral dan setelah 24 jam secara fotografik
ditentukan konsentrasi yodium radioaktif yang ditangkap oleh tiroid. Dari hasil
sidik tiroid dibedakan 3 bentuk
Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau
kurang dibandingkan sekitarnya. Hal ini menunjukkan sekitarnya.
Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak
dari pada sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih
Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan
sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.
Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dapat membedakan antara padat, cair,
dan beberapa bentuk kelainan, tetapi belum dapat membedakan dengan pasti ganas
atau jinak. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG :
Kista
Adenoma
Kemungkinan karsinoma
Tiroiditis
Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle
Aspiration/FNA)
Mempergunakan jarum suntik no. 22-27. Pada kista
dapat juga dihisap cairan secukupnya, sehingga dapat mengecilkan nodul (Noer,
1996).
Dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan
suatu keganasan. Biopsi aspirasi jarum halus tidak nyeri, hampir tidak
menyababkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian pemeriksaan ini dapat
memberikan hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat, teknik biopsi
kurang benar, pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena
salah interpretasi oleh ahli sitologi.
Termografi
Metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit
pada suatu tempat dengan memakai Dynamic Telethermography. Pemeriksaan ini
dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Hasilnya
disebut panas apabila perbedaan panas dengan sekitarnya > 0,9o C dan dingin
apabila <0,9o C. Pada penelitian Alves didapatkan bahwa pada yang ganas semua
hasilnya panas. Pemeriksaan ini paling sensitif dan spesifik bila dibanding
dengan pemeriksaan lain.
Petanda Tumor
Pada pemeriksaan ini yang diukur adalah peninggian
tiroglobulin (Tg) serum. Kadar Tg serum normal antara 1,5-3,0 ng/ml, pada
kelainan jinak rataa-rata 323 ng/ml, dan pada keganasan rata-rata 424 ng/ml.
STRUMA TOKSIK
1. Struma difus toksik (Grave's Disease)
Grave's disease adalah bentuk umum dari tirotoksikosis.
Penyakit Grave's terjadi akibat antibodi reseptor TSH (Thyroid Stimulating
Hormone) yang merangsangsang aktivitas tiroid itu sendiri (Mansjoer, 2001).
Manifestasi klinis
Pada penyakit Graves terdapat dua gambaran utama
yaitu tiroidal dan ekstratiroidal. Keduanya mungkin tidak tampak. Ciri-ciri
tiroidal berupa goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid dan hipertiroidisme
akibat sekresi hormon tiroid yang berlebihan (Price dan Wilson, 1994).
Gejala-gejala hipertiroidisme berupa manifestasi
hipermetabolisme dan aktivitas simpatis yang berlebihan. Pasien mengeluh lelah,
gemetar, tidak tahan panas, keringat semakin banyak bila panas, kulit lembab,
berat badan menurun, sering disertai dengan nafsu makan meningkat, palpitasi,
takikardi, diare, dan kelemahan serta atrofi otot.
Manifestasi ekstratiroidal berupa oftalmopati dan
infiltrasi kulit lokal yang biasanya terbatas pada tungkai bawah. Oftalmopati
ditandai dengan mata melotot, fisura palpebra melebar, kedipan berkurang, lid
lag (keterlambatan kelopak mata dalam mengikuti gerakan mata), dan kegagalan
konvergensi. Jaringan orbita dan dan otot-otot mata diinfltrasi oleh limfosit,
sel mast dan sel-sel plasma yang mengakibatkan eksoltalmoa (proptosis bola
mata), okulopati kongestif dan kelemahan gerakan ekstraokuler (Price dan
Wilson, 1994).
Diagnosis
Sebagian besar pasien memberikan gejala klinis yang
jelas, tetapi pemeriksaan laboratorium tetap perlu untuk menguatkan diagnosis.
Pada kasus-kasus subklinis dan pasien usia lanjut perlu pemeriksaan laboratorium
yang cermat untuk membantu menetapkan diagnosis hipertiroidisme. Diagnosis pada
wanita hamil agak sulit karena perubahan fisiologis pada kehamilan pembesaran
tiroid serta manifestasi hipermetabolik, sama seperti tirotoksikosis.
Menurut Bayer MF, pada pasien hipertiroidisme akan
didapatkan Thyroid Stimulating Hormone sensitive (TSHs) tak terukur atau jelas
subnormal an Free T4 (FT4) meningkat (Mansjoer, 2001).
2. Struma nodular toksik
Struma nodular toksik juga dikenal sebagai Plummer's
disease (Sadler et al, 1999). Paling sering ditemukan pada pasien lanjut usia
sebagai komplikasi goiter nodular kronik.
Manifestasi klinis
Penderita mungkin mengalami aritmia dan gagal
jantung yang resisten terhadap terapi digitalis. Penderita dapat pula
memperlihatkan bukti-bukti penurunan berat badan, lemah, dan pengecilan otot.
Biasanya ditemukan goiter multi nodular pada pasien-pasien tersebut yang
berbeda dengan pembesaran tiroid difus pada pasien penyakit Graves.
Penderita goiter nodular toksik mungkin
memperlihatkan tanda-tanda mata (melotot, pelebaran fisura palpebra, kedipan
mata berkurang) akibat aktivitas simpatis yang berlebihan. Meskipun demikian,
tidak ada manifestasi dramatis oftalmopati infiltrat seperti yang terlihat pada
penyakit Graves (Price dan Wilson, 1994). Gejala disfagia dan sesak napas
mungkin dapat timbul. Beberapa goiter terletak di retrosternal (Sadler et al,
1999)
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat,
pemeriksaan fisik dan didukung oleh tingkat TSH serum menurun dan tingkat
hormon tiroid yang meningkat. Antibodi antitiroid biasanya tidak ditemukan
(Sadler et al, 1999)
PENYAKIT TIROID YANG LAIN
Tiroiditis
Ditandai dengan pembesaran, peradangan dan disfungsi
kelenjar tiroid.
Klasifikasi (Noer, 1996) :
Akut (supuratif)
Disebut juga infective thyroiditis, infeksi oleh
bakteri atau jamur. Bentuk khas infeksi bakterial ini ialah tiroiditis septik
akut. Kuman penyebab antara lain Staphylococcus aureus, Streptococcus
hemolyticus, dan Pneumococcus. Infeksi terjadi melalui aliran darah, penyebaran
langsung dari jaringan sekitarnya, saluran getah bening, trauma langsung dan
duktus tiroglosus yang persisten. Kelainan yang tejadi dapat disertai abses
atau tanpa abses.
Gejala klinis
adalah berupa nyeri di leher mendadak,
malaise, demam, menggigil, dan takikardi. Nyeri bertambah pada pergerakan leher
dan gerakan menelan. Daerah tiroid membengkak dengan tanda-tanda radang lain
dan sangat nyeri tekan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis, LED
meninggi, sidikan tiroid menunjukkan nodul dingin. Pengobatan utama adalah
antibiotik. Kokus gram positif biasanya diatasi dengan penisilin atau
derivatnya, tetrasiklin atan kloramfenikol. Apabila terjadi abses melibatkan
satu lobus diperlukan lobektomi (dengan lindungan antibiotik). Jika infeksi
sudah menyebar melalui kapsul dan mencapai jaringan sekitarnya, diperlukan
insisi dan drainage.
Subakut
Etiologi
umumnya diduga oleh virus. Pada beberapa
kasus dijumpai antibodi autoimun. Pasien mengeluh di leher bagian depan
menjalar ke telinga, demam, malaise, disertai hipertiroidisme ringan atau
sedang. Pada pameriksaan fisik ditemukan tiroid membesar, nyeri tekan, biasanya
disertai takikardi berkeringat, demam, tremor dan tanda-tanda lain
hipertiroidisme. Pemeriksaan laboratorium sering di jumpai leukositosis, laju
endap darah meningkat.
Pada 2/3 kasus kadar hormon tiroid meninggi karena
penglepasan yang berlebihan akibat destruksi kelenjar tiroid oleh proses
inflamasi. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri sehingga pengobatan yang
diberikan bersifat simtomatis. Dapat diberikan asetosal untuk mengurangi nyeri.
Pada keadaan berat dapat diberikan glukokortokoid misalnya prednison dengan
dosis awal 50 mg/hari.
Menahun
Limfositik (Hashimoto)
Merupakan suatu tiroiditis autoimun dengan nama lain
yaitu struma limfomatosa, tiroiditis autoimun. Umumnya menyerang wanita berumur
30-50 tahun. Kelenjar tiroid biasanya membesar lambat, tidak terlalu besar,
simetris, regular dan padat. Kadang-kadang ada nyeri spontan dan nyeri tekan.
Bisa eutiroid atau hipotiroid dan jarang hipertiroid. Kelainan histopatologisnya
antara lain infiltrasi limfosit yang difus, obliterasi folikel tiroid dan
fibrosis. Diagnosis hanya dapat ditegakkan dengan pasti secara histologis
melalui biopsi. Bila kelenjar tiroid sangat besar mungkin diperlukan
pengangkatan, tetapi operasi ini sebaiknya ditunda karena kelenjar tiroid dapat
mengecil sejalan denagn waktu. Pemberian tiroksin dapat mempercepat hal
tersebut.
Non spesifik
DAFTAR PUSTAKA
Adediji., Oluyinka S.,2004., Goiter, Diffuse Toxic.,
eMedicine.,
Davis, Anu Bhalla., 2005, Goiter, Toxic Nodular.,
eMedicine.,
De Jong. W, Sjamsuhidajat. R., 1998., Buku Ajar Ilmu
Bedah. Edisi Revisi., EGC., Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Buat teman -teman yg ingin materi biostatistik terbaru langsung aja download di link bawah ni yaaa.. "selamat belajar " 1....
